Mengenal sahabat

Posted under Artikel on : 09/08/2017 10:17:11

Ibnul Ash radhiyallahu ‘anhu berkata “Aku akan menceritakan padamu tentang dua orang laki-laki yang sampai wafatnya Rasulullah masih disayangi oleh beliau, kedua orang itu adalah Abdullah bin Mas’ud dan Ammar bin Yaasir.” (HR Ahmad)


Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ayahnya wafat pada zaman jahiliah sementara ibunya sempat masuk Islam dan menjadi salah seorang shahabiyah (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan wanita).


Abdullah bin Mas’ud termasuk salah seorang yang pertama-tama masuk agama Islam (Assabiquunal Awwaluun). Beliau masuk Islam sebelum Umar ibnul Khathab radhiyallahu ‘anhu sedangkan sebab yang melatar belakangi dirinya masuk Islam adalah seperti yang ia ceritakan sendiri pada riwayat berikut ini.

Abdullah ibn Mas’ud berkata : ‘Ketika aku masih kanak kanak, aku pernah mengembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith. Pada suatu hari Nabi shallahu ‘alaihi wasallam beserta Abu Bakar mendatangiku, dan kala itu Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar sedang melarikan diri dari kejaran kaum musyrikin Mekah. Lalu Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar bertanya kepadaku, ‘Hai anak kecil, apakah kamu mempunyai susu kambing yang dapat melepas dahaga kami?’ Aku menjawab,’Aku ini pemegang amanat milik oranglain dan aku tidak bisa kasih kamu berdua minum’


Maka, Nabi shallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, ‘Apakah kamu punya kambing muda (masih berumur satu tahun) yang belum kupak? ‘Aku menjawab, ‘Ya ‘Maka, aku segera membawakan keduanya kambing itu. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam langsung memegang kambing itu dan beliau mengusap tetek kambing sambil berdoa, langsung saja tetek kambing itu penuh dengan susu. Kemudian Abu Bakar datang dengan membawa batu yang cekung dan Nabi memeras susu kambing itu ke dalamnya. Beliau langsung meminumnya, lantas Abu Bakar minum dan aku juga turut minum. Setelah itu beliau berkata kepada tetek kambing itu, ‘Mengkerutlah’ Maka,tetek itu pun langsung mengkerut. Aku segera mendatangi beliau dan aku berkata, ‘Ajarkanlah aku bacaan tadi’ Beliau berkata,’Engkau adalah anak yang terdidik’


Kemudian aku telah belajar membaca tujuh puluh surah Al-Qur’an langsung dari lisan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada seorang pun yang dapat menandingi bacaanku.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ahmad.


Abdullah bin Mas’ud adalah orang pertama setelah Rasulullah yang membaca Al-Qur’an di Mekkah dengan suara lantang. Pernah suatu hari para sahabat Rasulullah berkumpul dan mereka berkata, “Demi Allah, sekali-kali orang Quraisy tidak pemah mendengar Al-Qur’an dibaca dengan suara lantang. Karena itu, siapa di antara kita yang berani memperdengarkan Al-Qur’an kepada mereka dengan suara lantang?” Abdullah bin Mas’ud berkata,”Aku berani membaca Al-Qur’an di telinga orang-orang Kafir Quraisy itu dengan suara lantang”                  Para sahabat yang hadir kala itu saling berkata,”Kami khawatir orang-orang kafir Quraisy itu akan berbuat onar terhadap dirimu. Sesungguhnya kami ingin ada seorang laki-laki yang memiliki keluarga yang berwibawa agar dapat mencegah mereka jika mereka ingin berbuat jahat kepada kamu” Ibnu Mas’ud berkata,”Biarkanlah aku, sesungguhnya Allah yang akan melindungiku” .


Pada waktu dhuha dia pergi menuju ke maqam Ibrahim, sementara orang-orang Quraisy sedang berada di klub-klub mereka. Lalu, dia pun berdiri di maqam lbrahim kemudian membaca firman Allah dengan suara lantang, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an” . (ar-Rahmaan:2)


Kemudian dia pun menghadap mereka sambil membacanya. Mereka pun memperhatikannya dan membuat mereka bertanya-tanya dan berkata,”Apa yang diucapkan oleh Ibnu Ummi Abd?”


Mereka berkata, “Dia sedang membaca sebagian yang dibawa oleh Muhammad” Mereka berdiri dan mendatanginya, langsung saja mereka memukul mukanya sementara dia sendiri tetap meneruskan bacaannya sampai pada yang dikehendaki Allah. Setelah itu baru dia kembali ke teman-temannya sementara mukanya terlihat babak belur, teman-teman berkata, “Inilah yang kami khawatirkan terjadi atas kamu” Dia berkata, “Bagiku saat ini para musuh Allah tersebut lebih mudah. Dan, jika kalian mau, maka besok aku melakukan hal yang sama kepada mereka”.Mereka berkata, “Jangan, sudah cukup bagimu, kamu telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang mereka membencinya”Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud selalu menemani Rasulullah dan dialah orang yang selalu membawa sandal, siwak dan air wudhu beliau, untuk itu dia sering disebut, “Pembawa sandal, bantal dan air wudhu.”


Ibnu Mas’ud pernah turut hijrah ke Habasyah. Kemudian dia kembali ke Mekah. Setelah itu dia hijrah ke Madinah.Dia turut serta dalam perang Badar dan perang-perang sesudahnya. Dalam perang Badar dia berusaha mencari Abu jahal ditengah mayat korban perang dan dia pun mendapatkannya. Lalu, dia memukulnya dua kali dan dia memandangnya. Kemudian dia memotong kepalanya lalu diletakkan di depan Rasulullah.Suatu hari Ibnu Mas’ud sedang memetik batang siwak dari pohonnya, dia memiliki betis yang kecil dan tiba-tiba angin menyingkapnya yang membuat orang-orang yang melihatnya tertawa.


Rasulullah berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Wahai Nabi Allah, karena betisnya yang kecil.”Maka beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, kedua betis itu lebih berat timbanganannya daripada Gunung Uhud.” (HR Ahmad)


Suatu hari Rasulullah meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan AlQur’an, “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”, Abdullah bin Mas’ud berkata : “Saya membacakan Al-Quran atasmu sementara Al-Quran turun kepadamu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Quran dari selainku”, maka beliaupun membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun menangis dan berkata kepadanya: Cukuplah sampai disitu!” (HR Bukhari).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru kepada para sahabat lainnya untuk belajar Al-Qu’ran kepada empat orang sahabat, salah satunya adalah kepada Abdullah Ibnu Mas’ud, karena beliau merupakan sahabat yang belajar langsung bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga merupakan sahabat yang paling banyak dalam menghafal Al Quran dengan kualitas suara yang sangat merdu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Mintalah kalian akan bacaan Al-Quran pada empat sahabat : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal” (HR. Bukhari)


Penyebutan empat orang sahabat yang dimaksud oleh Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam ini menunjukkan keutamaan dari keempat sahabat tersebut dalam hal bacaan Al-Qur’an, walaupun bisa jadi dalam hal lain sahabat selainnya lebih faqih dalam hal sunnah.Seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Abdullah Ibnu Mas’ud pernah berkhutbah di depan kami. Beliau berkata : Demi Allah,aku telah mendapatkan dari lisan Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam tujuh puluh surat, sungguh aku lebih faham tentang kitabullah dari sahabat lainnya padahal aku tidak lebih baik dari mereka, dan tidak ada dalam kitabullah baik berupa surat ataupun ayat kecuali aku tahu dimana diturunkan dan kapan diturunkan”


Para sahabat yang mendengarkan perkataan itu tidak ada yang mengingkarinya, bahwa memang beliau radhiyallahu ‘anhu adalah termasuk orang yang paling tahu tentang kitabullah. Tapi, hal Itu tidak menjadikannya lebih tahu ketimbang Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan lainnya tentang sunnah Nabi shalllahu ‘alaihi wasallam shalllahu ‘alaihi wasallam juga tidak berarti bahwa día lebih mulia dari yang lainnya di sisi Allah.Bisa jadi seseorang itu lebih tahu dari yang lainnya dalam satu hal, tapi bisa jadi yang lainnya lebih tahu dari dia dalam banyak hal. Bisa jadi seseorang itu lebih tahu dari yang lain dan itu lebih mulia disisi Allah dengan nilai plus ketakwaan, kesalehan, zuhud, kesucian hati serta lainnya. Dan, menjadi hal yang tidak diragukan lagi bahwa Khulafaur Rasyidin yang empat mereka semua adalah lebih mulia daripada Ibnu Mas’ud dan itu pula yang diakui sendiri oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Makanya, dia pun mengatakan, “Namun aku bukanlah yang terbaik di antara mereka”


Juga Rasulullah telah berwasiat untuk berpegang teguh dengan perjanjian Ibnu Mas’ud,      “Ikutilah orang-orang dari para sahabatku setelah aku nanti, Abu Bakar dan Umar,dan ikutilah petunjuk Ammar, dan berpeganglah dengan perjanjian lbnu Mas’ud” (HR Tirmidzi)


Ibnu Mas’ud menjadi salah seorang ulama’ sahabat dan juga termasuk orang yang ilmunya menyebar luas karena dia memiliki banyak teman dan banyak pula yang belajar darinya. Dia banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah dan pernah juga menjabat sebagai penanggung jawab baitul maal di Kufah saat kekhalifahan Umar dan Utsman


Suatu hari dia datang ke Madinah yang ditemani oleh rombongan beberapa pejabat dari lrak.Ditengah jalan di luar kota Madinah mereka menemukan jenazah. Kemudian diberitahukan kepada mereka bahwa jenazah itu adalah Abu Dzar seorang sahabat Rasulullah yang tidak memiliki siapa-siapa kecuali seorang istri dan seorang anaknya.Maka,Abdullah bin Mas’ud pun langsung menangis dan berkata,”Benar yang Rasulullah katakan kepadanya, ‘Kamu akan pergi sendirian, dan akan mati sendirian serta akan dibangkitkan sendirian.”Kemudian dia dan para sahabatnya turun tangan untuk mengubur jenazah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu


Setelah Rasulullah wafat, Ibnu Mas’ud juga turut serta dalam beberapa peperangan di antaranya perang Yarmuk dan juga peperangan lainnya. Dan ketika Amirul Mu’minin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memerintahkan untuk berpegang dengan satu mushaf Al-Qur’an dan dalam satu bacaan serta memerintahkan umat Islam untuk membakar mushaf-mushaf yang lainnya demi untuk menghindari terjadinya perselisihan, pada awalnya Ibnu Mas’ud menolak perintah tersebutdan berkata,“Atas bacaan siapa Anda memerintahkan aku untuk membaca bacaan Al-Qur’an? Aku telah membaca tujuh puluh surah lebih langsung dari Rasulullah.”             Maksudnya, siapa orang yang memerintahkan agar aku mengikuti bacaan Al-Qur’an seseorang dan aku tinggalkan bacaanku sendiri yang telah aku dapat dari mulut Rasulullah?

Maka, Utsman segera menulis surat kepadanya untuk mengajak agar dia mau mengikuti kesepakatan para sahabat yang lain demi kemaslahatan bersama dan untuk persatuan umat serta menjauhi segala bentuk perbedaan. Maka, Ibnu Mas’ud pun menerima ajakan itu dan meninggalkan perbedaannya.


Di akhir masa hidupnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu datang ke Madinah dan beliau sakit di sana sampai akhirnya dia wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan tahun 33 Hijriah dalam usia lebih dari 60 tahun. Beliau dimakamkan di Baqi. Muslim meriwayatkan bahwa Abul Ahwash berkata, “Aku menyaksikan Abu Musa dan Abu Mas’ud saat Ibnu Mas’ud meninggal dunia. Salah satu diantara mereka berkata kepada temannya,’Apakah kamu melihat ada orang yang setara dengannya setelah sepeninggalnya ini?’ Temannya menjawab, “Saya hanya dapat mengatakan seperti itu jika ada orang yang mempunyai kapabilitas besar sehingga ia dapat diandalkan ketika kita terhalang sesuatu, dan dapat bersaksi ketika kita tidak ada.”


maraji’ :


 Buku “yang disenangi nabi dan yang tidak disukai” terjemahan kitab “Madza yuhibbu annabi muhammad wa madza yukrihu” karya Adnan ath-tharwsyah