MENYORONG REMBULAN DAN MATAHARI BERKABUT

Posted under Artikel on : 14/11/2016 09:14:52

Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padhang rembulane
Yo surako
Surak: Hiyyoo!


Menggeliatlah dari matimu, tutur Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh
tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah
penggalan sorga. Sorga seolah pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan
keindahannya. Dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya

Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tak
terkirakan. Tak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau
bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bisa engkau selenggarakan dan
rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh
negeri-nergeri lain yang manapun.

Tapi kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini. Kita telah
memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidak-adilan dan
panen-panen kerakusan

Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi

Sunan Ampel tidak menuliskan: "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral",
"Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah
Angon..." Beliau juga tidak menuturkan : "Penekno sawo kuwi", atau "Penekno
pelem kuwi" atau buah apapun lainnya, melainkan "Penekno blimbing kuwi"

Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksud dengan
lima Yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin ini, agar blimbing bisa
kita capai bersama-sama

Dan yang memanjat harus "Cah Angon". Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh
seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja -- namun dimilikinya
daya angon Kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan
memesrai semua pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian
bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna,
semua golongan, semua kecenderungan

Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka
suatu gerombolan

Tandure wus sumilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar.

Menggeliatlah dari matimu, tutur Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh
tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah
penggalan sorga. Sorga seolah pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan
keindahannya. Dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya ..

Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tak
terkirakan. Tak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau
bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bisa engkau selenggarakan dan
rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh
negeri-nergeri lain yang manapun.

Belum lagi kalau engkau nanti melihat bahwa engkau sesungguhnya bisa mendirikan
IMF-mu sendiri yang engkau ambil di rahim bumi dan lautanmu. Belum lagi kalau
engkau nanti menyaksikan apa yang sebenarnya diamanatkan oleh para Aulia
pemelihara pulau Jawa, bahkan oleh leluhur-leluhurmu yang justru engkau
kutuk-kutuk. Belum lagi kalau engkau nanti menyadari bahwa negerimu ini bukan
saja mampu dengan gampang membebaskan dirinya dari krisis dan hutang-hutang,
namun bahkan bisa menjadi negeri adikuasa -- seandainya SDM kita tidak
berkarakter tikus-tikus...

Abacadabra sungguh kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini.
Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidak-adilan dan
panen-panen kerakusan.


Cah angon, cah angon penekno blimbing kuwi.

Sunan Ampel tidak menuliskan: "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral",
"Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah
Angon..."

Beliau juga tidak menuturkan : "Penekno sawo kuwi", atau "Penekno pelem kuwi"
atau buah apapun lainnya, melainkan "Penekno blimbing kuwi"

Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksud dengan
lima.

Yang jelas harus ada yang memanjat "pohon licin reformasi" ini -- yang
sungguh-sungguh licin, sehingga banyak tokoh-tokoh yang kita sangka sudah matang
dan dewasa ternyata begitu gampang terpeleset dan kini kebingungan bak
layang-layang putus.....

Kita harus panjat, selicin apapun, agar blimbing itu bisa kita capai
bersama-sama.

Dan yang memanjat harus "Cah Angon". Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh
seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja namun dimilikinya daya
angon.

Kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan memesrai semua
pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama. Pemancar
kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan,
semua kecenderungan.

Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka
suatu gerombolan. Bocah Angon adalah waliyullah, negarawan sejati, 'orang tua
yang jembar', bukan Lowo Ijo yang gemagah, bukan Simorodra yang mengaum-aum
seenak napsunya sendiri.

Lunyu-lunyu penekno. Kanggo mbasuh dodot iro.

Sekali lagi, selicin apapun jalan reformasi ini, engkau harus jalani....
Selicin apapun pohon pohon tinggi reformasi ini sang Bocah Angon harus
memanjatnya.

Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan
diperebutkan.

Air saripati blimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci
pakaian nasionalnya. Konsep lima itulah sistem nilai yang menjadi wacana utama
gerakan reformasi, kalau kita ingin menata semuanya ke arah yang jelas, kalau
kita mau memahami segala tumpukan masalah ini dalam komprehensi konteks-konteks:
kemanusiaan, kebudayaan, politik, rohani, hukum, ekonomi, sampai apapun.

Bukankah reformasi selama ini kita selenggarakan sekedar dengan acuan 'nafsu
reformasi' itu sendiri, tanpa bimbingan ilmu atau spiritualitas dan
profesionalitas rasional apapun?


Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir. Dondomono, jlumatono, kanggo
sebo mengko sore.

Pakaianlah yang membuat manusia bukan binatang. Pakaianlah yang membuat manusia
bernama manusia.

Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian
adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.

Pergilah ke pasar, lepaskan semua pakaianmu, maka engkau kehilangan
segala-galanya sebagai manusia. Kehilangan harkat kemanusiaanmu, derajat
sosialmu, eksistensi dan kariermu.

Semakin lebar pakaian menutupi tubuh, semakin tinggi pemakainya memberi harga
kepada kemanusiaan pribadinya. Semakin sempit dan sedikit pakaian yang dikenakan
oleh manusia, semakin rendah ia memberi harga kepada kepribadian kemanusiaannya.

Jika engkau berpakaian sehari-hari, engkau menjunjung harkat pribadi dan
eksistensi sosialmu. Jika engkau mengenakan pakaian dinas, maka yang engkau
sangga adalah harga diri dan rasa malu negara, pemerintah dan birokrasi.

Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu sebagai
pejabat negara, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri.

Pakaian kebangsaan kita selama berpuluh-puluh tahun telah kita robek-robek
sendiri dengan pisau pengkhianatan, kerakusan dan kekuasaan yang semena-mena --
yang akibatnya justru menimpa rakyat yang merupakan juragan kita, yang menggaji
kita dan membuat kita bisa menjadi pejabat.

Bukankah negara dan pejabat memerlukan rakyat untuk menjadi negara dan pejabat?
Sementara rakyat bisa tetap hidup tanpa negara dan pejabat?

Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali,
tegakkan harkat yang selama ini ambruk.

Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane. Yo rurako surak Hiyooo!.

Dari sudut apapun, kecuali kelemahan SDMnya, Indonesia Raya ini masih merupakan
ladang masa depan yang subur, masih memancar cahaya rembulannya.

Ilir-ilir itu karya Sunan Ampel. Aku pilih untuk dalam berbagai pertemuan dengan
sesama rakyat kecil melantunkannya, sebab kami sepakat untuk tidak memilih karya
Sunan Isyu, Ayatollah Surat Kaleng, Syekh Katanya, Wali Qila Wa Qala atau Imam
Selebaran Gelap...

Tak usah kita perhatikan apakah ia berbahasa Jawa atau Jerman, memakai kata Arab
atau Perancis. Juga tak usah berpikiran apa-apa mengenai primordalisme atau
sektarianisme seandainyapun lantunan itu berbahasa planet Mars atau jin Gunung
Kawi. Yang penting kita rasuki saja kemesraannya, kita resapi saja keindahannya,
kita nikmati saja ketulusan hati yang dikandungnya, serta kita kita renungi saja
setiap kemungkinan muatan nilainya.

Lho, kita memang sudah bangun. Kita sudah nglilir sesudah tidur terlalu nyenyak
selama 30 tahun atau mungkin lebih lama dari itu. Kita sudah bangkit.
Beribu-ribu kaum muda, berjuta-juta rakyat sudah bangkit, keluar rumah dan
memenuhi jalanan.

Kita telah membanjiri sejarah dengan semangat menguak kemerdekaan yang terlalu
lama diidamkan.

Bahwa karena terlalu lama tidak merdeka lantas sekarang kita tidak begitu
mengerti bagaimana mengerjakan kemerdekaan, sehingga tidak paham beda antara
demkrasi dengan anarki -- itu soal lain.

Bahwa karena terlalu lama kita tidak boleh berpikir lantas sekarang hasil
pikiran kita keliru-keliru, sehingga tidak sanggup membedakan mana asap mana
api, mana emas mana loyang, mana nasi dan mana tinja -- itu tidak terlalu
penting.

Bahwa karena terlalu lama kita hidup dalam ketidakmenentuan nilai lantas
sekarang semakin kabur pandangan kita atas nilai-nilai sehingga yang kita
jadikan pedoman kebenaran adalah kemauan, nafsu dan kepentingan kita sendiri --
itu bisa diproses belakangan.

Bahwa terlalu lama kita hidup dalam kegelapan sehingga sekarang tidak mengerti
bagaimana mengurusi cahaya terang, sehingga kita junjung pengkhianat dan kita
buang pahlawan, sehingga kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan -- itu
lumrah...

Yang penting sekarang kita sedang terus berupaya menyempurnakan kemerdekaan itu.
Baik kemerdekaan untuk memilih kebenaran maupun kebebasan untuk ngotot
mempertahankan pendapat dan pembenaran.

Baik kemerdekaan untuk bersatu maupun kebebasan untuk semakin asyik memecah
belah hubungan kemanusiaan, hubungan sosial, politik dan kebudayaan kita.

Pokoknya, semakin banyak golongan yang saling bertentangan, kita merasa semakin
dewasa.

Semakin banyak partai politik, rasanya semakin demokratis. Semakin banyak
benturan dan perang saudara, rasanya semakin modern kita.

Kita mendadak bangun dan mendadak sudah berada di lapangan sepakbola zaman baru,
pas di depan kotak penalti yang ribut. Kemudian tiba-tiba bola masuk ke dalam
gawang, dan kita bersorak-sorak riang gembira, karena kita merasa kaki kitalah
yang bikin gol itu.

Namun itu tidak penting. Sebab yang utama dari ili-ilir kita sekarang adalah
tidak jelasnya mana gawang mana bola, siapa kiper siapa gelandang, mana wasit
mana penonton.

Kita berjingkrak-jingkrak kegirangan padahal bola sedang masuk ke gawang kita
sendiri.

Kita bersuit-suit dan hampir mabuk padahal yang dijegal dari belakang itu adalah
striker kita sendiri.

Kita marah-marah kepada kiper yang dengan sigap menangkap bola pengancam
gawangnya.

Pandangan mata kita sedemikian kaburnya, sehingga yang kita tatap di lapangan
adalah prasangka-prasangka kita sendiri. Kemudian dengan mantap prasangka dan
kecurigaan itulah yang kita jadikan dalil untuk menilai segala yang terjadi di
lapangan.

Ilir-ilir.

Kita sudang nglilir. Kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah
berlari ke sana kemari, namun akal pikiran kita belum, hatinurani kita belum.

Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun kita
biarkan ajaran-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik.

Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling.

Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya.

Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk
insaf dan bertobat.

Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur.

Kita menolak pemusnahan dengan merancangan pemusnahan.

Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita
halangi usahanya untuk memperbaiki diri.

Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia,
yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka?

Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas.

Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak.

Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan.

Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelaknya kecurigaan.

Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah.

Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan
panjang untuk menyelenggarakan perang saudara.

Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita
sendiri.

Saudara-saudara kita sendiri kita pentaskan di dalam bayangan kecurigaan kita.

Saudara-saudara kita sendiri kita beri peran fiktif di dalam assosiasi prasangka
kita.

Di dalam pementasan fiktif di dalam kepala kita itu, saudara-saudara kita
sendiri kita hardik, kita injak-injak, kita pukuli, kita bunuh dan akhirnya kita
makan beramai-ramai.

Padahal yang kita peroleh dengan memakan bangkai itu bukan keuntungan, melainkan
kesengsaraan batin dan tabungan dosa yang sama sekali tidak produktif.

Yang kita dapatkan dari memakan bangkai itu bukan sukses, melainkan penderitaan
yang terus menerus di kedalaman hati kecil kita.

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melain mempersempit dunia
kita sendiri dengan lubang-lubang kedengkian dan iri hati.

Kita adalah bumi yang menutupi cahaya matahari yang semestinya menimpa rembulan
untuk kemudian dipantulkannya kepada bumi.

Kitalah penghalang cahaya rembulan yang didapatkannya dari matahari, sehingga
bumi kita sendiri menjadi gelap gulita.

Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya adalah rahmat nilai dan barakah rejekinya.
Rembulan adalah Rasul, Nabi, para Wali, Ulama, pemimin-pemimpin kemanusiaan,
pemerintah, lembaga-lembaga sosial, pers, tata nilai kemasyarakatan dan
kenegaraan, atau apapun, yang mentransformasikan cahaya rahmat Tuhan itu agar
menjadi manfaat bagi kehidupan seluruh manusia.

Tapi cahaya itu kita tutupi sendiri.

Tapi informasi itu kita sampaikan secara disinformatif. Tapi cahaya terang itu
kita pandang tidak layak pasar sehingga yang kita kejar-kejar adalah kegelapan,
kerusuhan, pembunuhan, kebohongan, pertengkaran.

Tapi cahaya Tuhan itu kita halangi sendiri. Suara Rasul kita curigai, sabda Nabi
kita singkirkan, ayat-ayat kita remehkan, firman-firman kita anak tirikan --
seakan-akan kita sanggup menumbuhkan bulu alis kita sampai sepuluh sentimeter.

Kita bikin landasan falsafah negara untuk kita buang dalam praktek, sehingga
gerhanalah rembulan dan gelaplah kehidupan.

Kita bikin aturan main nasional untuk kita khianati sendiri, sehingga gerhanalah
rembulan dan gelaplan kehidupan.

Kita bikin sistem, tatanan, batasan-batasan, untuk kita langgar sendiri,
sehingga gerhanalah rembulan dan gelaplah kehidupan.

Kita bikin hiasan-hiasan budaya, lipstik hukum dan lagu pop politik, yang tidak
mengakar di tanah kenyataan hidup kita, sehingga gerhanalah rembulan dan
gelaplah kehidupan.

Kita biayai pekerjaan-pekerjaan besar untuk memboros-boroskan rahmat Allah,
melalui managemen pembangunan yang tidak menomersatukan rakyat, sehingga
gerhanalah rembulan dan gelaplan kehidupan.

Kita selenggarakan kompetisi merampok rahmat, kolusi untuk memonopoli rahmat,
pencurian dan perampokan diam-diam atau terang-terangan atas rahmat Allah yang
sesungguhnya merupakan hak seluruh rakyat negeri ini, sehingga gerhanalah
rembulan dan gelaplah kehidupan.

Sekarang kita harus memilih: apakah akan meneruskan fungsi sebagai bumi penutup
cahaya matahari, ataukah berfungsi rembulan, yang menyorong dirinya, bergeser ke
titik koordinat alam semesta sejarah yang tepat, sehingga kita peroleh kembali
cahaya matahari...untuk nanti sesudah pergantian abad kita mulai sebuah
Indonesia baru yang 'bergelimang cahaya matahari'....


by:Anto-Kebumen