Anak idaman

Posted under Artikel on : 09/12/2014 13:11:28

Anak adalah buah hati bagi kedua orang tuanya yang sangat disayangi dan dicintainya.
Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam benak suami istri adalah berapa jumlah anaknya kelak akan mereka miliki serta kearah mana anak tersebut akan dibawa. Menurut Sunnah melahirkan anak yang banyak justru yang terbaik.
Sabda Rasulullah saw adalah “Nikahilah wanita yang penuh dengan kasih sayang dan karena sesungguhnya aku bangga pada kalian dihari kiamat karena jumlah kalian yang banyak.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’I, kata Al Haitsamin).

Pada kesempatan ini akan dibahas tentang anak idaman sesuai tema diatas. Pada hadits diatas ada anjuran rasulullah untuk memilih pasangan hidupnya yaitu
Pertama pilihlah pasangan yang penuh kasih sayang.
Ketika memiliki seorang istri yang penuh kasih sayang maka kelak akan menjadi modal bagi bangunan keluarga untuk mendidik anak keturunannya menjadi anak yang shalih anak yang menjadi idaman orang tuanya dengan ditanamkan rasa kasih sayang.

Kedua yaitu kata rasulullah bangga pada umatnya karena jumlah yang banyak. Artinya dengan memiliki anak yang banyak akan menjadi aset yang besar bagi bangunan keluarga. Dengan dibangunnya pondasi keluarga yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jumlah yang besar akan menjadi kekuatan yang besar pula.

Lantas bagaimana stategi untuk mewujudkan sebuah harapan itu agar anak - anak yang terlahirka itu menjadi anak idaman bagi orang tua, lingkungannya?

1. Memberi persepsi yang sama tentang anak shalih dan manfaatnya.
Sabda Rasulullah saw, “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim). Catatan hadits diatas salah satunya adalah Do'a anak yang shalih, itu adalah aset bagi orang tuanya.
Bagaimana agar anak itu menjadi shalih? Maka peran orang tualah untuk menjadikan anaknya mejadi anak yang shalih yaitu sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari).

2. Memilihkan lingkungan sekolah yang baik.
Kenapa pentingnya orang tua untuk memilihkan tempat belajar yang baik, karena sekolah adalah tempat kedua setelah rumah dalam membentuk karakter anak kita agar menjadi shalih. Sekolah adalah gudang ilmu dengan sekolah yang baik maka pemahaman anak tentang jati dirinyapun akan di dasari dengan ilmu yang benar sesuai Allah dan Rasul-Nya. 
Faktor yang juga cukup menentukan dalam membentuk watak dan karakter anak di sekolah adalah konsep yang diterapkan sekolah tersebut dalam mendidik dan mengarahkan setiap anak didik.
Sekolah yang ditata dengan managemen yang baik tentu akan lebih mampu memberikan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan sekolah yang tidak memperhatikan sistem managemen. Sekolah yang sekedar dibangun untuk kepentingan bisnis semata pasti tidak akan mampu menghasilkan murid-murid yang berkwalitas secara maksimal, kualitas dalam pengertian intelektual dan moral keagamaan.

3. Lingkungan Masyarakat.
Masyarakat adalah komunitas yang terbesar dibandingkan dengan lingkungan yang kita sebutkan sebelumnya. Karena itu pengaruh yang ditimbulkannya dalam merubah watak dan karakter anak jauh lebih besar.
Masyarakat yang mayoritas anggotanya hidup dalam kemaksiatan akan sangat mempengaruhi perubahan watak anak kearah yang negatif. Dalam masyarakat seperti ini akan tumbuh berbagai masalah yang merusak ketenangan, kedamaian, dan ketentraman.
Anak yang telah di didik secara baik oleh orang tuanya untuk selalu taat dan patuh pada perintah Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya, dapat saja tercemari oleh limbah kemaksiatan yang merajalela disekitarnya. Oleh karena itu untuk dapat mempertahankan kwalitas yang telah terdidik secara baik dalam institusi keluarga dan sekolah, maka kita perlu bersama-sama menciptakan lingkungan masyarakat yang baik, yang kondusif bagi anak. 
Masyarakat terbentuk atas dasar gabungan individu-individu yang hidup pada suatu komunitas tertentu. Karena dalam membentuk masyarakat yang harmonis setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab yang sama. Persepsi yang keliru biasanya masih mendominasi masyarakat. Mereka beranggapan bahwa yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah pemerintah, para da’i, pendidik atau ulama.

Nah, itulah tiga point pada kesempatan kali ini di bahas, dan masih banyak faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan pribadi anak yang diidamkan orang tua. insyaallah pada kesempatan lain akan dibahas, waallahu'alam,